PENGALAMAN RASA

​Prolog heula!

Rindunya minta ampun. Saya merasa pernah memelihara kata-kata . Lah, pakannya tidak ditebar – ide-ide hanya sempalan–.  Mati kutu juga saat saya sedang berhasrat menulis. Namun, kata-kata seperti saya simpan dalam kandang, tidak diberi pakan, hingga ia lupa bahwa saya pernah memeliharanya dalam tulisan. Lahan yang teramat sia-sia ditinggalkan.  

Ketika saya diajak dalam ‘lingkar blog’ oleh kawan-kawan Semi Palar. Saya ingin kembali memelihara dan mengembala  kata-kata. Tidak di kandang, tidak di pikiran, namun perlu saya giring dalam tulisan. Awalnya Ide-ide menjadi beringas, liar,  sulit dikendalikan. Kata-kata berlarian, susah ditangkap, apalagi diarahkan. Macam pelihara belut, lingas! 

Gambaran menulis saya saat ini semacam itu. Namun, tak kalah hebat, adik-adik di KPB malah lebih lihai memelihara kata-kata. Saya sempat menjadi pengamat, –ngan haté  éra, (nyepét) piraku! –. Untung saja, Kakak-kakak yang lain saling menyemangati. Prung geura nulis deui!

Pengalaman Rasa

“Ketika seorang guru sedang berproses dengan murid-muridnya, nyatanya ia sedang berproses dengan diri sendiri.”

Kalimat itu benar nyatanya, untuk saya. Betapa, saat Kakak merancang karya untuk anak-anak di kelas, sesuai harapan akhirnya anak-anak tuntas membuat karya tersebut. Sampai di situ, saya hampir  tak sempat berpikir proses dibalik mereka melakukannya [bukan sekadar amatan]. 

Saat menggambar, menulis, atau membentuk objek tiga dimensi, selama itu pula saya menjadi semacam motivator layar kaca; “Super!  Ayo, lanjutkan! Harus selesai dalam waktu sekian, ya! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!”  Apalagi dilakukan berkelompok; membayangkan bagaimana mereka berbagi peran dan saling bertoleransi atas ide masing-masing.  

Pada akhirnya, sempat luput bahwa anak-anak di satu sisi lebih hebat dari saya.  Mereka masih terus berproses, menjemput  dan mengasah ide, melihaikan jemarinya, ini dan itu. Dari tahun ke tahun mereka terbiasa mencipta berbagai bentuk karya. Sementara, saya masih mengorbit dipermukaan; mencari ide, merencanakan, mengharap hasil terbaik dari proses mereka. Bagaimana dengan pengalaman dan kemampuan mencipta saya? 

Awal tahun pelajaran ini tepatnya. Kami para Kakak di Semi Palar mulai meluangkan waktu untuk belajar berkarya. Sudah dua kali bergulir; melukis dan membuat cerita bergambar.  Hasilnya, menohok sekali.  Untuk saya, kegiatan ini memang mengasyikan. Namun saya perlu berjuang keras selama melakukan dan juga menuntaskannya. Seperti ada yang berbisik,  “Super!  Ayo, lanjutkan! Harus selesai dalam waktu sekian, ya! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!”   

Saat membuat cerita bergambar, misalnya. Secara teknis menulis memang tidak asing, namun saat harus disertai gambar dan dilakukan berkelompok, sulit juga ternyata. Sepanjang kegiatan tersebut, saya menyadari selalu ada yang hal yang perlu kami ikut sertakan selain memberi semangat anak-anak kami. ‘Spirit mengalami’ perlu terpancar di dalam ide, di krayon, di pensil warna, di atas bahan karya, juga di jemari kita. “Oh begini rasanya mewarnai pakai krayon di atas kertas kasar! Hasilnya lebih mantap kalo pakai alat ini dan bahan itu!”   Begitulah kira-kira pengalaman rasa jika sama-sama bisa bicara. 

Ikut menyemai spirit alias pengalaman rasa, istilahnya. Maksudnya, kami  (si pemberi instruksi) perlu sama-sama memiliki ‘pengalaman rasa’  serta kemampuan yang paling tidak menjadi pemancar energi  untuk mengawal kegiatan. Sehingga kami bisa lebih memiliki ‘timbangan-timbangan’ saat mengajak anak-anak berkarya. 

Timbangan-timbangan inilah yang menghimpun saya sebagai Kakak dan anak-anak sebagai partner berkegiatan. Akan ada telusur yang matang dan sama-sama memiliki pengalaman rasa saat menghadapi bagian sulit,  sedang atau pun mudah. Kebayang, seandainya kami membuat kegiatan membuat maket atau diorama hutan. Saat kami minim referensi prihal mengonsep dari ide menuju bentuk,  kemudian mengecat sampai melakukan improvisasi berbagai bahan dan alat. Bagaimana kami bisa menarik sasaran berbagai kemampuan dasar mereka. Inilah yang menjadi referensi mempertimbangkan kemampuan anak dan keselarasan sasaran yang tepat untuk mereka.   

Problemnya, mengapa saya menjadi berhadapan dengan ketidakhadiran pengalaman rasa? Menurut hemat saya, poin yang tak kalah penting ada pada antusiasme dan kesungguhan. Jika saya meletakkan dan berpandangan bahwa karya sebagai satu hal yang membosankan dan tak bergairah, maka jangan berpikir saya akan berusaha mencari ide-ide baru, apalagi melakukannya sebagai sebuah pengalaman rasa. Saya kira, semua penemu hebat pun adalah orang-orang yang selalu diliputi antusiasme dan kesungguhan. Kata sastrawan Ralph Waldo Emerson, induk dari semua usaha adalah antusiasme, tidak akan ada hal besar yang bisa dilakukan tanpa antusiasme.

SAKITU!   

Advertisements

4 thoughts on “PENGALAMAN RASA

  1. leoamurist says:

    He’ euh.. antusiasme uy..

  2. rizkysatria says:

    Tarikan antara “belajar dari pengalaman” dengan “sejauh mana guru harus mengalami pembelajaran tersebut terlebih dahulu”, dan antara “guru sama-sama belajar” dengan “proses anak berkarya harus optimal tanpa campur tangan guru”, benar-benar menjadi perhatian saya selama ini. Dan hanya benar-benar dari pengalaman, dan dari fleksibilitas kita terhadap situasi, tarikan yang pas itu dapat terus coba saya pahami. Maka, terima kasih untuk tulisannya kak Arry, karena telah ikut membantu saya untuk memahami soal ini.

  3. andysutioso says:

    Resep macana. Jitu oge pandangan-pandanganana. Jempol kak Arry. 🙂

  4. kobenoz says:

    Seringkali komentator sepak bola dengan sinisnya berujar “Harusnya di efek pisang sedikit tuh! Masa tendangan bebas jarak segituh aja ga masuk?!”. Padahal belum tentu doi juga bisa mengeksekusi curve ball… Cantik tulisannya! Mengingatkan saya untuk terus ikut “bermain” ketimbang hanya jadi komentator. Wassalam…

COMENT PLEASE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

stevarandalia

manusia pembelajar

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

%d bloggers like this: