Program “Moé, Nutu, Napi dan Ngejo” di SMIPA

Tema belajar  Semi Palar di pembuka tahun ajaran 2013-2014 adalah “Irama Lumbung Damai”. Di tema ini semua yang berhubungan dengan musik dan suasana pedesaan yang dikemas dengan apik lewat alur cerita menarik di masing-masing kelompoknya. Saya merasa beruntung bisa berkarya di Semi Palar dan dipercaya memfasilitasi anak-anak kelompok Orca. Hampir 9 bulan sudah saya bergabung di sekolah ini, dan sampai sekarang saya masih merasa seperti berkarya sekaligus mengajak anak-anak bermain. Sangat menyenangkan.  Salah satu program yang menarik untuk saya ceritakan adalah programnya Moé, Nutu, Napi dan Ngejo”.  Program tersebut adalah sarana anak-anak untuk mengetahui dan menghayati semua proses menjemur, menumbuk dan menapi padi sampai pada proses menjadi nasi yang siap mereka santap.

“Alone we can do so little; together we can do so much” ― Helen Keller

Di minggu sebelum libur lebaran, Kak Caroline dan Kak Deta dari kelompok Salmon mengajak kelompok Paus Orca (Kak Lyn, Kak Arry dan Kak MJ yang bergabung sesudahnya) untuk mengadakan program babarengan. Intinya kolaborasi ini adalah momentum untuk menghidupkan tema sekaligus mempererat pertemanan kelompok Orca dan Salmon yang semakin kompak ini. Program ini langsung kami dukung karena kaya dengan sasaran dan manfaatnya. Kami yakin anak-anak akan banyak belajar dari program yang menarik ini.

Di awal Minggu ke-5 (Senin 26 Agt), kami mengabarkan program ini kepada anak-anak sekaligus mengkonfirmasi mereka yang mau menyumbang-pinjamkan perkakas sederhana untuk memasak babarengan. Mereka tampak antusias dan mengabarkan informasi ini pada orang tuanya. Alhamdulillah banyak dari orang tua mereka yang mau menyumbang-pinjamkan alat-alat seperti pisau, talenan, katel dan pengkinya untuk hari Jumat nanti. Kami bersyukur program ini banyak didukung juga oleh para ortu Kel. Orca dan Salmon.

Sasaran dari proses ini berharap bagaimana anak-anak menyampaikan informasi sekaligus berdiskusi yang mungkin menjadi hal kecil untuk diobrolkan bersama orang tua. Obrolan ini tentu saja mengembangkan pola interaksi mereka karena harus menyampaikan hal yang sama seperti halnya sasaran program ini. Anak-anak hanya diperbolehkan membawa alat-alat yang juga hanya diperbolehkan oleh orang tuanya. Kemudian, mereka bertanggung jawab dengan alat-alat tersebut dengan tetap menjaga dan tidak membahayangkan sebab diantara alat tersebut ada anak yang membawa pisau sampai dikembalikannya. Semoga obrolan hal kecil mengenai perkakas bisa menjadi obrolan yang berharga bagi keluarga di rumah…

Selasa 27 Agt, saat rutin pagi kedua kelompok ini berkumpul dan membuat lingkaran di ruang Longpus. Di tengah-tengah lingkaran, terdapat 2 ikat paré/padi di atas nyiru dan 4 boboko yang berisi padi juga. Kak Caroline membuka pagi itu dengan menyapa dan salah satu dari teman Kel. Salmon mulai berdo’a dengan rasa syukur untuk hari yang cerah, meminta programnya berjalan lancar dan asik juga memohon agar review hari ini dilancarkan…. Amiin…

Kak Caroline kemudian meniup recorder selama beberapa bait instrument dilanjut Kak Deta melantunkan sebuah lagu yang asing didengar bagi kedua kelompok. Nyanyian itu tampak mengalun indah dengan lirik yang sangat dalam tentang serumpun padi yang menjadi harapan ibu pertiwi. Setelah nyanyian itu selesai, sontak anak-anak bertepuk tangan kemudian Kak Caroline membalasnya dengan ucapan terima kasih tentu saja dengan senyum, bangga dan haru. . .

Moe pare 1

Tanpa jeda lagi, Kak Caroline langsung mengisahkan cerita rakyat tentang Dewi Padi atau Dewi Sri ( Nyai Pohaci Sanghyang Asri). Kisah ini menceritakan tentang asal-usul padi di Bumi. Menurut hemat saya, menceritakan folklore pada anak-anak sangat penting karena selain mereka mengetahui cerita dari nenek moyang di daerah yang mereka tinggali (baca: tanah Sunda), mereka juga menyerap nilai-nilai moral yang saat ini mulai jarang diceritakan orang tua. Selebihnya, paling tidak mereka akan lebih menghayati proses bagaimana padi menjadi beras kemudian nasi saat mereka mengikuti serangkaian program ini. Setelah cerita tentang Dewi Sri selesai, sebagian besar anak memang baru mengetahui cerita rakyat tersebut sambil bertanya-tanya kosa-kata asing yang baru mereka dengar juga.

Rangkaian pertama adalah menjemur padi, untungnya Tuhan memberkati hari itu dengan langit yang cerah. Nuhun gusti!

Mereka dibagi 4 kelompok dan menabur padi untuk dijemur di atas terpal di area dekat bak pasir. Namun, sebagian dari mereka ada yang masih mengobrol diluar konteks program. Memang ini masih menjadi tugas para Kakak agar mereka bisa mengikuti (menghayati) setiap rangkaian proses moé. Tapi kami masih besar harapan karena sebagian besar mereka bisa mengikuti proses moé ini dengan baik.

Selama proses moé, padi itu diberi batas dengan tali rapia yang dililitkan ke kursi. Namun seperti di pedesaan, saat padi itu tidak ditunggui pemiliknya maka burung-burung akan berjejer sambil menunggu kesempatan untuk memakan biji padi yang terhampar diatas terpal itu. Berhubung penunggunya belajar, ya sudahlah… selamat makan burung-burung . . . hihihi…

Manuk

Di siang harinya sebelum mereka pulang, teman-teman Kel. Orca dan Salmon berkumpul dan mengangkat padi yang sudah dijemurnya.

Di rutin pagi hari berikunya (Rabu 28 agt), Kak Deta menyanyikan lagu “Serumpun Padi” karya R. Maladi dan anak-anak ikut bernyanyi dengan lirik yang sudah ditanganny. Kak Deta kemudian membacakan sebuah puisi tentang sawah dan padi sambil diiringi instrumen dari rekordernya Kak Caronline. Pada proses moé ini, anak-anak diajak untuk tenang sambil menghayati setiap gerak tangan yang menabur padi di atas terpal. Di hari kedua moé, anak-anak sudah berhasil dengan tenang mengikuti proses moé dan mengangkat hasil moé-nya.

Hari k 2

Esoknya, di satu jam terakhir sebelum pulang. Kami masih berkumpul di area longpus untuk mempersiapkan proses selanjutnya yaitu nutu atau numbuk dan napi atau nampi. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan karena menjadi satu kesatuan dari sub proses padi menjadi beras. Proses nutu dan napi ini menjadi rangkaian terakhir dari padi menjadi beras. Kami mengajak teman-teman untuk kembali mengingat proses yang selam ini sudah dilakukan untuk menyelaraskan bagaimana anak-anak menghayati pemaknaan proses ini dengan baik.

Tidak mudah memang dengan dua halu (alat penumbuk) dan satu lisung untuk 4 kelompok. Maka, kami mensiasatinya dengan tetap menyasar pengalaman bagaimana mereka merasakan cara menumbuk dan menampi. Pengalam itu mungkin sangat berharga bagi mereka, sebab mereka bisa merasakan betapa perlu usaha yang keras untuk menghasilkan beras yang akan mereka jadikan nasi. Paling tidak, mereka harus berupaya menumbuk padi dengan posisi yang sama agar tidak keluar dari lisung. Koordinasi tangan dengan konsentrasi mereka usahakan dengan semangat dan saling mencoba.  Mereka bergantian menumbuk dan merapihkan padi yang tercecer ke arah pukulan halu. Sungguh memerlukan usaha yang ekstra agar mereka bisa memisahkan beras dari gabahnya.

Sesungguhnya dibalik proses nutu ini banyak pelajaran yang sedari dulu dilakukan masyarakat Indonesia. Di saung lisung, biasanya masyarakat menjadikan tempat itu untuk bersosialisasi dan bekerja sama. Anak-anak menjadi tak terasa capek karena sambil diimbangi dengan mengobrol. Disamping itu mereka juga merasakan betapa kerja sama saat proses ini sangat diperlukan. Mereka membayangkan betapa capeknya jika mereka melakukan proses nutu ini sendirian.

Saat proses napi anak-anak antusias mencoba dan meminta bergiliran. Lucunya, bagi mereka yang belum tahu caranya, kulit gabah bisa beterbangan ke tubuh mereka dan beras yang seharusnya dipisahkan malah ikut terbang dengan kulit padi tersebut. Semua jika dilakukan bersama, maka akan mudah tercapai. Tiga hari mengikuti rangkaian proses ini memang sangat mengasyikan sekaligus rindu akan kampung halaman dan hidup di masa-masa serba manual.

Terima kasih atas kerja sama para Kakak Kelompok Orca dan Salmon!!!

nutu 2 nutu 3 nutu 4 nutu

Advertisements

4 thoughts on “Program “Moé, Nutu, Napi dan Ngejo” di SMIPA

  1. mbakdan says:

    kegiatannya keren banget, kak arry! membuat temen-temen menghargai apa arti perjalanan sesuap nasi. salam untuk teman2 di paus orca, ya! *lucu namanya*

  2. Arry Syakir Gifari says:

    Iya Kakak.. Nuhun juga sudah baca…

  3. andysutioso says:

    Kak Arry, mohon ijin repost di semipalar.sch.id ya… tentunya dengan tautan balik ke posting orisinilnya kak Arry di sini. 🙂

COMENT PLEASE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

stevarandalia

manusia pembelajar

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

%d bloggers like this: