KREATIVITAS DAN SEKOLAH

Saya masih ingat betul kata-kata Picasso bahwa anak terlahir sebagai seniman. Persoalannya apakah dewasa kelak ia masih sebagai seniman. Ahli kreativitas, Ken Robinson,  dalam sebuah presentasinya di TED mengungkap bahwa sekolah biang keladi kegagalan ini. “Schools kill creativity” ungkapnya.

Mari kita ungkap kenapa Ken Robinson bisa-bisanya berkata demikian. Apakah anda akan mengamininya atau masih keukeuh sekolah tidak demikian?

Sedikit saya ceritakan dulu pernyataan-pernyataan Ken tentang kreativitas yang dibunuh oleh sekolah itu.  Ken mengungkapkan bahwa sistem pendidikan yang berlaku kini telah membunuh kreativitas para siswa. Pendidikan menurut Ken adalah sesuatu yang tertanam dalam diri seseorang. Artinya pendidikan sungguh sangat esensial bagi tumbuh kembangnya seseorang di masa depan. Jika pendidikan itu salah kaprah, maka yang esensi itu sebenarnya mengarahkan kita pada jalan yang sesat dan buruk. Anak-anak mempunyai kapasitas berinovasi dan berkreasi. Persoalannya adalah bakat-bakat mereka tidak berkembang. Pendidikan dan kreativitas mempunyai status yang sama. Keduanya sama-sama sangat penting. Jika dipisahkan, maka sangatlah cacat.

Di sekolah, kreativitas anak dibatasi. Kreativitas sebenarnya bisa lahir dari kesalahan. Ketika masa anak-anak membuat kesalahan, maka itu adalah langkah menuju kreativitas. “Yang kita ketahui adalah, jika anda tidak siap untuk salah, anda tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang orisinil” ungkap Ken. Masalahnya ketika kita dewasa dan tak siap untuk salah setelah lulus dari beberapa sekolah, apakah kesempatan ini akan tetap ada?

Pendidikan yang berlaku sekarang, argument Ken, masih ditunggangi dengan kepentingan industri dan bisnis. Era industri abad 19 menjadikan pendidikan sebagai wadah untuk mencari pekerjaan. Tak mendapatkan pekerjaan berarti hilangnya penghasilan. Maka, Ijasahlah tujuan pendidikan.

Hirarki akan subjek (mata pelajaran) muncul karena tujuannya bukan lagi pengembangan bakat yang dianugrahkan Tuhan pada manusia. Kasta subjek muncul akibat dari sistem pendidikan yang megikuti era industri itu. Maka, ungkap Ken “paling atas adalah matematika dan bahasa, kemudian kemanusiaan, dan paling bawah adalah seni”. Itulah kira-kira pernyataan Ken yang diungkap dalam presentasinya di TED. Jika ingin tau lebih lanjut silahkan tonton di situs resminya TED.

Anak lahir sebagai seniman menurut Picasso di atas hanya mewakili salah satu dari beberapa bakat anak yang ada. Tetaplah anak lahir dengan segala bakatnya. Perkembangannya kelak mengerucutkan bagian-bagian bakat yang mereka punya. Yang terpenting adalah sefokus apa anak diarahkan sesuai dengan bakatnya atau kecerdasan yang sebenarnya ada dalam diri anak. Mudah-mudahan lagi sekolah tidak merusak bakat yang anak miliki dan inginkan.

Kecerdasan anak perlulah diketahui sejak dini. Mengetahui kecenderungan kecerdasan anak dapat dapat membantu para orang tua untuk memilih sekolah yang dapat mengeluarkan potensi bakatnya. Menyekolahkan anak sejatinya adalah seperti memahat kayu dan menjadikannya patung Budha. Sebagai seniman pahat, mereka seperti mengeluarkan Budha dalam bongkahan kayu itu. Perlu kesabaran, ketelitian dan skill yang mumpuni. Guru dan orang tua pun demikian, jika mereka tidak tahu apa yang akan mereka bentuk apalagi tidak ahli, maka hasilnya akan berantakan. Mendidik anak adalah membentuk bakat dan potensi mereka.  Meski kecerdasannya berkembang atau dinamis, tetaplah mereka selalu didampingi dan tersalurkan.

Bakat dan potensi mereka sedari kecil memang sudah kelihatan. Dr. Howard Gardner menyebutkan paling tidak ada 8 bagian dari kecerdasan anak yang disebut kecerdasan majemuk atau Multiple Intelligences. Sekolah yang baik adalah sekolah yang  bisa menyalurkan bakatnya sesuai denga kecedasan yang dimiliki anak. Munif Chatib dalam buku Sekolahnya Manusia menyebut bahwa sumber kecerdasan seseorang adalah kebiasaan-kebiasannya membuat produk-produk baru yang punya nilai budaya (kreativitas) dan kebiasaannya menyelesaikan masalah secara mandiri (problem solving).

Berikut 8 kecerdasan versi Gardner; linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, kinstetis, interpersonal, intra personal, dan naturalis. Kedelapan kecerdasan ini akan masih berkembang dalam artian akan ada kecerdasan-kecerdasan lain yang belum diteorikan. Kecerdasan ini tidak bisa dibatasi oleh indikator-indikator yang ada dalam tes sekolah (formal test). Kita tahu bahwa JK Rowling sukses dengan novel Harry Potter yang menakjubkan, Bill Gate sukses dengan karya softwarenya Microsoft, atau Albert Einstein dengan teori relativitasnya, mereka dahulu adalah masa anak-anak yang tak normal di bangku sekolah. Masa kanak-kanak JK Rowling yang sering menghayal dan berimajinasi, Bill Gate dan Einstein yang pernah punya masalah dyslexia (semacam penyakit ketidakmampuan untuk belajar). Masa kecil mereka mungkin susah diatur dan beberapa nilainya jeblok, namun jika mereka konsisten dengan apa yang ia punya atas anugrah kecerdasannya maka kegemilangan masa dewasanyalah yang didapat.

“If a person can’t read or write, you don’t assume that this person is incapable of it, just that he or she hasn’t learned how to do it. The same is true of creativity. When people say they’re not creative, it’s often because they don’t know what’s involved or how creativity works in practice.”

KEN Robinson – The Element

Perubahan ini tak bisa diwujudkan semudah mengedipkan mata. Sistem yang benar akan merubah prilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang tak benar. Jika sistem ini susah ditembus, maka perjuangannya adalah memulai dari kita, dari hal yang kecil dan dari sekarang. Kita tak bisa berkoar-koar menuju kantor kementrian pendidikan atau menulis berhalaman-halaman dalam sebuah tulisan.

Kita hanya bisa merubahnya dari apa yang menjadi modal perbuahan. Profesi guru seperti saya adalah modal untuk merubahnya. Guru berkaitan erat dengan perubahan ini, perubahan yang meyakini bahwa kreativitas anak-anak yang kita didik itu lebih penting untuk mewujudkan kehidupan yang ideal, pendidikan yang manusiawi dan keselarasan antara bakat dan perkembangannya.

Melihat Finlandia adalah melihat betapa berhasilnya pendidikan disana. Kuncinya adalah bagaimana pemerintah (deputy pendidikan) memperhatikan kelayakan guru tanpa embel-embel seleksi sertifikasi di tengah jalan. Sertifikasi guru di sana dimulai sebelum guru mulai mengajar di kelas. Betapa ketatnya seleksi guru di Finlandia berbanding dengan betapa rileknya mereka mengajar. Para guru tahu betul dengan tugasnya bukan lagi sebagai “mine their brains”  tetapi menanam “benih subur” yang dapat menumbuhkan ide-ide baru dan cara melihat dunia kedepan.

 

Advertisements

3 thoughts on “KREATIVITAS DAN SEKOLAH

  1. Amirul Adli says:

    seandainya guru saya seperti anda..

  2. mbakdan says:

    nice writing, kak arry! 😀 menjadi guru adalah modal penting dalam perubahan… i’m very grateful being a teacher!!

  3. Arry Syakir Gifari says:

    Reblogged this on relaxteacher.

COMENT PLEASE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

stevarandalia

manusia pembelajar

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

%d bloggers like this: