Kata dan Nyawa

Dalam harapannya, hasil pemikiran –oleh pengarang– akan sebisa mungkin mengambil ruang untuk dibaca sesuai harapan penulis oleh ribuan bahkan jutaan pembaca. Ada sebuah kepuasan tersendiri yang dirasakan penulis ketika pesan-pesannya mulus dicerna pembaca. Namun apa jadinya jika hasil pemikiran yang ditulisnya itu mengacam nyawanya sendiri.

Halnya penomena kontroversial karya-karya yang disajikan pada publik umum. Si pembuat karya (author) itu harus disuguhkan dengan kritik-kritik yang mempengaruhi karyanya, apalagi jika yang dihadapinya berupa pelarangan beredar di Negara tempat ia tinggal. Entah demi sebuah kepentingan, kemudian sambutan para penguasa di negaranya berlajut hingga pada hukuman bahkan ancaman pembunuhan. Masalahnya pemikiran-pemikiran yang disajikan tak sesuai dengan kemauan para penguasa, menyakiti salah satu pengikut agama, etnis, atau apapun.

Namun sembarangnya menuliskan pemikiran, yang benar-benar tak mempertimbangkan kebenaran atau yang sesungguhnya menjadi wancana keumuman –suatu etnis, agama, ataupun organisasi besar lainnya– akan menimbulkan tolak balik pengancaman dari efek objek yang ditulisnya. Jika di jaman Orde Baru Indonesia anti komunis–telah menjadi wancana umum–, maka menuliskan untuk mendukung pemikiran tersebut beberapa buku itu dilarang dan pengarangnya diburu. Jika pemikirannya menentang kebenaran umum dalam suatu agama maka buku-buku yang ditulisnya juga dilarang, entah itu hasil fakta, prediksi ataupun sensasi.

Sesosok penulis novel Muhiddin M Dahlan dengan novelnya Adam Hawa pada tahun 2005 dianggap menyakiti kaum muslim. Kebenaran umum yang diyakini umat Islam tentang versi Adam Hawa sebagai manusia pertama, maka Muhiddin M Dahlan atau yang dikenal sebagai Gus Muh mempunya versi berbeda. Ada nama Maia dari Taman Eden yang pertama menduduki dunia, bahkan Adam pernah memperkosanya karena tak bisa menahan birahi. Untuk itu berbagai protes dilayangkan padanya dan karya-karya yang menjadi tetralogi itu dilarang untuk diterbitkan oleh somasi salah satu organisasi Islam di Indonesia. Gus Muh juga dianggap sebagai pengikut Marxisme, menghina Nabi Muhammad bahkan meneror Tuhan, kemudian Ia juga diharuskan meminta maaf.

Ayaan Hirsi Ali yang menulis skenario bersama temannya Taslima Nasreen pada film Submission karya sutradara Theo Van Gogh sempat mendapat ancaman pembunuhan. Film yang sangat kontroversial di Belanda ini juga menyebabkan Theo Van Gogh dibunuh secara tragis di Amsterdam pada 2 November 2004 karena film tersebut memuat scene yang menampilkan perempuan telanjang dengan ayat-ayat Al Qur’an di tubuhnya dan penghinaan Nabi Muhammad. Peristiwa ini menyebabkan perselisihan besar-besaran antar agama, masjid dan sekolah Islam dirusak sebagai aksi balasan. Mohammed Bouyeri yang membunuhnya tertangkap, diadili dan akhirnya mendapat vonis penjara seumur hidup di Pengadilan Amsterdam. Meski mengakui, ia benar-benar tak merasa menyesal membunuhnya bahkan jika Van Gogh masih hidup, ia malah ingin mengulangnya lagi.

Kasus Salman Rushdie, penulis Inggris yang menulis novel berjudul Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) bahkan mendapat fatwa darah halal dari mantan pemimpin Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini. Novel tersebut berisi pelecehan terhadap agama Islam yaitu ayat-ayat Al-Qur’an dan Nabi Muhammad. Meski demikian Salman Rushdie hanya bisa muncul kembali setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat.

Satu lagi, novel yang sempat dikhawatirkan menggoyahkan Iman Umat khatolik dan Protestan, “The Da Vinci Code” karya novelis terkemuka Dan Brown. Novel yang juga difilmkan ini dianggap melecahkan dan menghina gereja. Bagaimana tidak, kebenaran umum tentang tradisi yang dianut Umat Kristiani tentang Jesus, Mary Magdalena, The Priori of Sion dan Opus Dei itu berbeda dengan alur yang sebenarnya. Jelas saja hal ini membuat Vatikan geram dan langsung membuat pernyataan perlawanan. Maka dari itu buku-bukunya dibaikot atas anjuran seorang Cardinal di Vatikan dan mengecam pengarangnya.

Kasus-kasus kontoversial para penyampai pemikiran diatas adalah beberapa contoh nyata di dunia karya tulis. Idealisme atau bentuk sensasi apapun jika merebak dan membuat sebuah kontroversi yang menyakiti beberapa kepentingan akan berakibat fatal, meski secara royalti karya-karya kontroversi malah lebih melejit, terkenal dan laku dipasaran daripada apa yang diperkirakan.

Karya-karya itu –paling tidak– memang banyak diburu orang karena kepenasaran atas bentuk pemikiran kontroversialnya bukan karena pemikiran itu sendiri. Hal terpenting adalah alangkah baiknya melirik kiri kanan dalam berkarya jika pena yang kita gunakan tak mau mengancam kita. Meski buah pemikiran mempunyai hak hidup untuk eksis di alamnya, bebas menuangkan isi-isinya, tetap saja menulis seperti orasi yang dilontarkan di depan umum, banyak yang mendengarkannya. Jika ada objek yang merasa terpojok, penulis wajib bertanggung jawab.

Advertisements

COMENT PLEASE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

stevarandalia

manusia pembelajar

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

%d bloggers like this: