“GURU: More Super than Superman”

    “Panduan Menjadi Superhero”

                                      Oleh: Arry Syakir Gifari*

Sejak lalu. Sejak saya pertama mengaitkan kancing seragam sekolah baru. Lalu mencium tangan ayah-ibu dan bertemu ayah-ibu baru di sekolah baru. Ayah-Ibu yang selalu berseragam, bermurah seyum dan membagi ilmu. Guru, Sensei, Professeur, Lehrer, muddaris, Leraar, Maestro adalah namanya dalam bahasa lain. Tapi mereka adalah guru. Di kamus Webster pun kita akan menemukan kata guru. Digugu dan ditiru!

Well, Ada yang tau kapan guru bisa dikatakan pahlawan? atau siapa saja yang bisa dikatakan pahlawan?

Sahabat saya yang gemar nonton superhero menjawab persis seperti apa yang ia lihat di layar tv. Jawabnya, “ketika ia menghancurkan kejahatan dan menolong dunia, seperti Superman! Ya SUPERMAN!!!”.  Kita yang lagi bahas tema ini mungkin senyum-senyum, lalu bilang “haha.. anak sekarang ya!”

Mari kita respon jawaban sahabat saya tadi lalu kita tambahkan dengan tema kita kali ini. Superman menghancurkan kejahatan, lantas guru menghancurkan lebih dari itu, guru menghancurkan kebodohan, kemiskinan, ketidaktahuan, kekakuan, tawuran dan korupsi dini.

Superman menolong dunia, lantas guru lebih dari itu, guru menolong manusia menjadi berilmu, bermoral, tahu mana yang baik dan buruk, kreatif dan membangun bangsa untuk tetap bersentuhan dengan jaman. Bukan kah itu lebih bermakna? Tepatnya, lebih KEREN kan?

Intinya superhero adalah siapa saja yang memberikan banyak manfaat pada orang lain. Sedang, memberi manfaat pada orang lain merupakan sebaik-baiknya makhluk bumi.

Di dunia khayal memang ada Superman, tapi di kita ada Suparman

Superman vs Suparman.  Nama Suparman saya asosiasikan dengan kegiatannya sebagai guru. Alasannya, ya cuma di Indonesia banyak guru bernama Suparman, kalo gak percaya silahkan hitung saja sendiri dari Sabang sampe Merauke (dibaca: ngeles ala GusDur).

Intinya bukan masalah nama Suparman, saya hanya ingin mengajak pembaca untuk lebih mengenal guru yang jika saya bandingkan dengan superhero Superman, Suparman (guru) lebih dari Itu.

Suparman bisa menciptakan banyak Superman. Jadi Superhero itu tak cukup punya kekuatan dayawi yang besar dan kekuatan kekuatan fikiran yang bersifat lahiriah. Superhero harus punya karakter dan keseimbangan emosi. Apa pernah superman ngasih seperti itu?

Maka itu jadi guru lebih tangguh dari pada supermen . (cuma gak bisa terbang aja..). Sebab tak hanya fisik yang mereka libatkan, tapi juga karakter dan kasih sayang yang diberikan. Setelah lebih dari tiga tahun belajar ilmu pedagogik( dibaca S.Pd)di perguruan tinggi, guru juga harus berilmu dan bermoral.

Sebab itu, ada filisofi jawa yang saya sebut diawal, digugu dan ditiru, artinya guru harus jadi panutan dan layak ditiru. bukan fisiknya kan? tapi spirit dan setiap kelembutan karakternya untuk dicontoh.

Selanjutnya saya hanya ingin memprovokasi yang akan menjadi calon guru dan evoking (membangkitkan) gairah para guru yang saat ini masih belum mendalami profesinya. Simak ya…. hehe…

    Your job is not your career!

“pekerjaanmu bukan karirmu” ~ Rene Suhardono (career coach)

Berikutnya saya akan mengajak pembaca pada persoalan mengapa harus guru, termasuk mengapa saya menjadi guru.

Menjadi guru bukan sekedar disana ada primadona bernama “sertifikasi”, bukan sekedar ada hal yang menjanjikan, yang sebagian masyarakat berbondong-bondong mengandalkan profesi ini.

Menjadi guru harus dimulai dari apa Passion-nya,? Purpose-nya? dan Value-nya?

Saya masih ingat kata-kata Rene Suhardono di TEDx Jakarta  mengenai karir. “jika anda mengejar materi dari suatu pekerjaan, maka belum tentu anda bahagia”  begitu kira-kira kalimatnya. Setelah itu barulah anda harus bisa membedakan apa itu pekerjaan dan apa itu karir. Jika ingin tau maka jawablah ini, Are you happy with your career? Are you happy with your life? Do you care?.

Ketiga pertanyaan tersebut dirangkum menjadi Passion (hasrat), Purpose of Life (Tujuan Hidup), Value (Nilai) dan nanti dapat Happiness (Kebahagiaan).

Job (pekerjaan)= milik orang lain berhasrat materi, jabatan, gaji tinggi tapi belum tentu bahagia

Career (karir)= sepenuhnya milik kita, berorientasi pada passion, purpose, value yang pasti mendapat bahagia.

Selebihnya baca ini: “Passion is things that you really really love doing. Your Passion is your strength. And your strength is Not about you’re good at. It is about what you enjoy the most”.

Persoalan menjadi guru pada akhirnya bagi saya dan orang-orang yang sejalan dengan saya adalah sebuah pilihan (choice) karena disana “loh” ada passion kita, disana “loh” ada purpose kita, dan disana “loh” ada value kita, setelah itu disana pula kita akan temukan kebahagiaan kita yang tak bisa digantikan dengan gaji dan sertifikasi.

Yuk kita tonton Videonya di sini: 

atau baca bukunya langsung dengan judul “Your job is not your career” ini penampakannya

Kalo sudah dapet karir sudah pasti anda akan melibatkan hati dan cinta!

Source: http://principalposts.edublogs.org/files/2010/11/4634626668_571b29c1c9_o-qrnrt3.jpg

Selanjutnya, saya menulis soal guru dan MLM.  Lho…..kok?????? GJ nih… (gak Jelas…)

Memang benar kok saya akan menyoal antara guru dan MLM alias multi-level marketing. (Ini si mas mau ngajak bisnis atau apa?) … woles ya.. begitu kata murid saya.. (dibalik: selow/santai)

Saya punya anggapan bahwa dengan menjadi guru kita akan lebih kaya pionir bisnis MLM. Kaya apa? Pionir MLM itu kan yang paling untung, dimana ia dapat dari tiga orang downline (tau deh istilahnya…) alias bawahannya yang nanti point-pointnya bisa nambah ke si pionir berbentuk uang atau bonus mobil, rumah atau umroh. Bayangkan saja sekaya apa dia, dari bawahnnya ia dapat keuntungan segitu, nanti downlinenya diwajibkan merekrut paling tidak tiga orang dan dari tiga orang merekrut lagi dan lagi sehingga si pionir akan terus kaya.  (pernah ikut MLM ya…..??? ngaku deh)

Karena saya diawal mengejar passion, purpose dan value, maka dalam hal ini poin MLM saya ganti dengan amal yang nanti akan saya dapat di akhirat kelak. (YAKIN)

Yuk kita hitung-hitung: Sesuai dengan kepercayaan agama saya (Islam) tentang amal ma’ruf nahi munkar “mengajak kebaikan dan menolak kemungkaran” maka kita akan mendapat 7 kali lipat.

Tahun pertama ngajar di satu kelas misalnya 30 orang, kita ngajar satu kebaikan, lalu kebaikan itu diamalkan oleh 30 murid. Syaratnya adalah Ikhlas sesuai panggian passion dan value tadi murni karena Allah. Maka silahkan hitung, dari 30 orang ia akan mengamalkan, kemudian mereka mengajak temannya, memberitahu ke anaknya, anaknya memberi tahu ke cucunya, cucunya ke cicitnya dan seterusnya. berapa poin amalnya jika digandakan menjadi 7 poin amal.

itu baru satu kelas, hitung saja di sekolah ngajar berapa kelas, lalu setiap tahunnya menerima kelas-kelas baru. TAKJUB!!! Alhamdulillah…  Bangga kan? Itu sebab musababnya saya memilih “karir” menjadi guru ini.

Selain itu Ilmuan Ibnu Abas r.a pernah berkata bahwa:

 “Orang-orang yang berilmu mempunyai derajat, sebanyak 700 kali derajat di atas orang-orang beriman, dimana jarak antara satu derajat ke derajat lainnya adalah 700 tahun.”

Nah apalagi kita yang ikut andil dalam memberikan ilmu itu.

(dari perhitungan diatas apa masih pengen curang di sertifikasi???) GAK DEH!

LANJUT YA…

Setelah bangga dengan karir ini, tinggal kita membuka lembaran kembali semboyan Ki Hajar Dewantara. Mantap memilih karir guru, ikuti filosofinya:

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”

 Source: http://ndop.deviantart.com/art/Ki-Hajar-Dewantara-WPAP-208193643?offset=0

“Ing ngarso sung tulodo”di depan memberi teladan. Teladan guru adalah hal pertama yang harus dilakukan, memberi teladan secara tidak langsung adalah mengajarkan murid . Karakter dan kebiasaan-kebiasaan  yang baik menjadi andalan Rosul Muhammad ketika berda’wah dulu. Terbukti banyak yang masuk agama Islam berkat Akhlaknya.

Ing madyo mangun karso, di tengah membangun kreativitas. ketika kita telah berhadapan dengan murid, kita harus membangun karsa/ide-ide/pemikiran kreatif untuk kemajuan mereka dan merealisasikannya.

“Tut wuri handayani”, di belakang memberi dukungan. Berilah mereka motivasi ketika mereka sedang membutuhkanya. Guru tak hanya jadi motivator, tapi juga provokator untuk menumbuhkembangkan kretifitas dan karakter terpuji. Jika gurunya mengeluh, maka muridnya akan lebih mengeluh.

Wah, hebat ya filosofi Ki Hajar Dewantara. Yang orang Sunda, Batak, Bali, dan yang lainnya, mari kita hafal bahasa Jawa yuk.. ini aja dulu biar keliatan wong Jawanya. hehe..

Terakhir sekali, Saya mengundang anda untuk terlibat dalam organisasi atau pelatihan kepemimpinan (leadership). Ini penting loh agar kita menjaga motivasi, prinsip dan karir kita. Anis Baswedan (tokoh pendidikan) aja menitikberatkan leadership sebagai tonggak utama menjadi guru. Ia membuat program Indonesia mengajar. Ga percaya? liat aja presentasi uniknya disini..

Kreatif ya? Anis Baswedan juga ternyata satu stage dengan Rene Suhardono loh pas waktu di TEDx Jakarta

Nah simpulnya, jadi guru itu akan lebih tangguh, lebih bermanfaat dari superhero manapun, karena mereka akan melahirkan banyak superhero-superhero lainya.

Yuk kita Tanya kembali hati kita, jika masih jadi guru, apa sih passion-nya, purpose-nya, value-nya, apa bahagia dengan pekerjaan sekarang? nah tinggal luruskan…

Ingat! setelah menemukan karir, kita juga diberi keunggulan lebih loh dimata Tuhan, kita akan dikasih amal langsung dari Tuhan.

Selanjutnya, Jadikanlah semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai kompas kita dalam mendidik.

Terakhir, Perdalam pengetahuan dan skill kepemimpinan kita agar kelak kita bertahan dan sukses!

MARI KITA BANGUN BANGSA DENGAN MENJADI SUPERHERO!
MARI KITA BANGUN BANGSA DENGAN MENJADI SUPARMAN!
MARI KITA BANGUN BANGSA DENGAN MENJADI PIONIR MLM!

Makasih ya udah nyimak panduan menjadi superhero ala relaxteacher…. jangan lupa ninggalin comment!

POSTINGAN INI SAYA PERSEMBAHKAN UNTUK IKUT DI LOMBA BLOG GERAKAN INDONESIA BERKIBAR

IKUTAN YUK!!!

Gerakan Indonesia Berkibar

Advertisements
Tagged , , , , , , , , ,

4 thoughts on ““GURU: More Super than Superman”

  1. odie says:

    Kena banget!! Apalagi setelah tahu bagaimana kondisi pendidikan negara kita (khususnya daerah). jujur dari pengalaman, ketika sudah terjun kelapangan dan tahu bagaimana kondisi pendidikan dinegara kita (daerah). Tak ada niat sedikitpun pada awalnya untuk berprofesi menjadi guru. Ternyata ketika kita dihadapkan dengan kenyataan pendidikan itu, barulah muncul PASSION, PURPOSE dan VALUE. Meski nyatanya honorer hanya mendapatkan recehan pecahan rupiah, tapi semangat untuk memberikan pengetahuan dan memajukan juga meningkatkan SDM adalah lebih dari sekedar mendapatkan recehan pecahan rupiah!

    “Wajib di posting nih! Terutama bagi mereka yg sudah memiliki status PNS! Mari berzmangat membangun bangsa dengan menggali potensi dan SDM bangsa!

  2. Arry Syakir Gifari says:

    itu poin kita… thanks Odie….

  3. Rizkya Melia says:

    Entahlah, saya merasa tidak asing …
    anyway, tulisan bapak membuat saya jadi ingin mengamalkan sedekah paling utama.

COMENT PLEASE!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

stevarandalia

manusia pembelajar

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

%d bloggers like this: