KREATIVITAS DAN SEKOLAH

relaxteacher

Saya masih ingat betul kata-kata Picasso bahwa anak terlahir sebagai seniman. Persoalannya apakah dewasa kelak ia masih sebagai seniman. Ahli kreativitas, Ken Robinson,  dalam sebuah presentasinya di TED mengungkap bahwa sekolah biang keladi kegagalan ini. “Schools kill creativity” ungkapnya.

Mari kita ungkap kenapa Ken Robinson bisa-bisanya berkata demikian. Apakah anda akan mengamininya atau masih keukeuh sekolah tidak demikian?

Sedikit saya ceritakan dulu pernyataan-pernyataan Ken tentang kreativitas yang dibunuh oleh sekolah itu.  Ken mengungkapkan bahwa sistem pendidikan yang berlaku kini telah membunuh kreativitas para siswa. Pendidikan menurut Ken adalah sesuatu yang tertanam dalam diri seseorang. Artinya pendidikan sungguh sangat esensial bagi tumbuh kembangnya seseorang di masa depan. Jika pendidikan itu salah kaprah, maka yang esensi itu sebenarnya mengarahkan kita pada jalan yang sesat dan buruk. Anak-anak mempunyai kapasitas berinovasi dan berkreasi. Persoalannya adalah bakat-bakat mereka tidak berkembang. Pendidikan dan kreativitas mempunyai status yang sama. Keduanya sama-sama sangat penting. Jika dipisahkan, maka…

View original post 756 more words

PENGALAMAN RASA

​Prolog heula!

Rindunya minta ampun. Saya merasa pernah memelihara kata-kata . Lah, pakannya tidak ditebar – ide-ide hanya sempalan–.  Mati kutu juga saat saya sedang berhasrat menulis. Namun, kata-kata seperti saya simpan dalam kandang, tidak diberi pakan, hingga ia lupa bahwa saya pernah memeliharanya dalam tulisan. Lahan yang teramat sia-sia ditinggalkan.  

Ketika saya diajak dalam ‘lingkar blog’ oleh kawan-kawan Semi Palar. Saya ingin kembali memelihara dan mengembala  kata-kata. Tidak di kandang, tidak di pikiran, namun perlu saya giring dalam tulisan. Awalnya Ide-ide menjadi beringas, liar,  sulit dikendalikan. Kata-kata berlarian, susah ditangkap, apalagi diarahkan. Macam pelihara belut, lingas! 

Gambaran menulis saya saat ini semacam itu. Namun, tak kalah hebat, adik-adik di KPB malah lebih lihai memelihara kata-kata. Saya sempat menjadi pengamat, –ngan haté  éra, (nyepét) piraku! –. Untung saja, Kakak-kakak yang lain saling menyemangati. Prung geura nulis deui!

Pengalaman Rasa

“Ketika seorang guru sedang berproses dengan murid-muridnya, nyatanya ia sedang berproses dengan diri sendiri.”

Kalimat itu benar nyatanya, untuk saya. Betapa, saat Kakak merancang karya untuk anak-anak di kelas, sesuai harapan akhirnya anak-anak tuntas membuat karya tersebut. Sampai di situ, saya hampir  tak sempat berpikir proses dibalik mereka melakukannya [bukan sekadar amatan]. 

Saat menggambar, menulis, atau membentuk objek tiga dimensi, selama itu pula saya menjadi semacam motivator layar kaca; “Super!  Ayo, lanjutkan! Harus selesai dalam waktu sekian, ya! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!”  Apalagi dilakukan berkelompok; membayangkan bagaimana mereka berbagi peran dan saling bertoleransi atas ide masing-masing.  

Pada akhirnya, sempat luput bahwa anak-anak di satu sisi lebih hebat dari saya.  Mereka masih terus berproses, menjemput  dan mengasah ide, melihaikan jemarinya, ini dan itu. Dari tahun ke tahun mereka terbiasa mencipta berbagai bentuk karya. Sementara, saya masih mengorbit dipermukaan; mencari ide, merencanakan, mengharap hasil terbaik dari proses mereka. Bagaimana dengan pengalaman dan kemampuan mencipta saya? 

Awal tahun pelajaran ini tepatnya. Kami para Kakak di Semi Palar mulai meluangkan waktu untuk belajar berkarya. Sudah dua kali bergulir; melukis dan membuat cerita bergambar.  Hasilnya, menohok sekali.  Untuk saya, kegiatan ini memang mengasyikan. Namun saya perlu berjuang keras selama melakukan dan juga menuntaskannya. Seperti ada yang berbisik,  “Super!  Ayo, lanjutkan! Harus selesai dalam waktu sekian, ya! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!”   

Saat membuat cerita bergambar, misalnya. Secara teknis menulis memang tidak asing, namun saat harus disertai gambar dan dilakukan berkelompok, sulit juga ternyata. Sepanjang kegiatan tersebut, saya menyadari selalu ada yang hal yang perlu kami ikut sertakan selain memberi semangat anak-anak kami. ‘Spirit mengalami’ perlu terpancar di dalam ide, di krayon, di pensil warna, di atas bahan karya, juga di jemari kita. “Oh begini rasanya mewarnai pakai krayon di atas kertas kasar! Hasilnya lebih mantap kalo pakai alat ini dan bahan itu!”   Begitulah kira-kira pengalaman rasa jika sama-sama bisa bicara. 

Ikut menyemai spirit alias pengalaman rasa, istilahnya. Maksudnya, kami  (si pemberi instruksi) perlu sama-sama memiliki ‘pengalaman rasa’  serta kemampuan yang paling tidak menjadi pemancar energi  untuk mengawal kegiatan. Sehingga kami bisa lebih memiliki ‘timbangan-timbangan’ saat mengajak anak-anak berkarya. 

Timbangan-timbangan inilah yang menghimpun saya sebagai Kakak dan anak-anak sebagai partner berkegiatan. Akan ada telusur yang matang dan sama-sama memiliki pengalaman rasa saat menghadapi bagian sulit,  sedang atau pun mudah. Kebayang, seandainya kami membuat kegiatan membuat maket atau diorama hutan. Saat kami minim referensi prihal mengonsep dari ide menuju bentuk,  kemudian mengecat sampai melakukan improvisasi berbagai bahan dan alat. Bagaimana kami bisa menarik sasaran berbagai kemampuan dasar mereka. Inilah yang menjadi referensi mempertimbangkan kemampuan anak dan keselarasan sasaran yang tepat untuk mereka.   

Problemnya, mengapa saya menjadi berhadapan dengan ketidakhadiran pengalaman rasa? Menurut hemat saya, poin yang tak kalah penting ada pada antusiasme dan kesungguhan. Jika saya meletakkan dan berpandangan bahwa karya sebagai satu hal yang membosankan dan tak bergairah, maka jangan berpikir saya akan berusaha mencari ide-ide baru, apalagi melakukannya sebagai sebuah pengalaman rasa. Saya kira, semua penemu hebat pun adalah orang-orang yang selalu diliputi antusiasme dan kesungguhan. Kata sastrawan Ralph Waldo Emerson, induk dari semua usaha adalah antusiasme, tidak akan ada hal besar yang bisa dilakukan tanpa antusiasme.

SAKITU!   

Abstrak

DI awal tahun 2013 adalah masa dimana saya hidup penuh keberanian, harapan dan tantangan. Keberanian saya yakinkan perlahan karena kompromi diri terus dikedepankan. Memilih tinggal di Bandung dan memilih meninggalkan kemampanan yang pernah saya alami semasa mengajar di Tangerang. Beberapa bulan saat mengajar di Tangerang, saya selalu ditentang oleh hasrat berkarya dan mengeluarkan nyawa ide agar terus merasuki tubuh karya yang selama ini saya dekati. Nyawa menulis dan keliaran berfikir mengabstrakannya saat mengajar dengan cara-cara yang saya percayai dapat menyumbang sesuatu sebagai benih keberlangsungan pendidikkan di Indonesia.

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

hari jingga

setiap hari selalu penuh kata-kata

Polaroid Hitam Putih

hidup gue, dalam hitam putih

%d bloggers like this: