PENDIDIKAN DI FINLANDIA

PENDIDIKAN DI FINLANDIA

Pendidikan di Finland tampak sangat efektif, namun kembali lagi pendidikan yang lebih efektif adalah pendidikan yang mempertimbangkan lokalitas (local genius) sebagai harta yang tak pernah digali pemerintah kita. Konsep pendidikan FInland bisa kita pakai setelah kita mengenal akar masalah yang ada.

Tagged , ,

Falsafah Ngaji Rasa

Falsafah ngaji rasa adalah falsafah hidup Sunda dan Jawa yang sarat akan makna. Falsafah hidup ini sebenarnya menyebarluas di kehidupan leluhur kita dulu namun banyak dari generasi kini yang belum tentu tau dan menghayati pemaknaannya. Istilah “Ngaji Rasa” sebenarnya sudah saya dengar sekilas sewaktu berbincang dengan sahabat saya. Istilah itu kemudian mengendap lama karena saya sangat takjub dengan pemaknaan di balik falsafah hidup tersebut. Istilah “ngaji rasa” kemudian menjadi semacam pertimbangan jika sewaktu-waktu saya bertindak baik mengucapkan atau melakukan sesuatu. Sebelum saya bahas pemaknaan falsafah “ngaji rasa”, saya coba sekilas kaji pengertiannya dari segi bahasa.

“Ngaji rasa” adalah gabungan dari dua kata yaitu ngaji dan rasa. “Ngaji” berasal dari kata kaji yang artinya belajar, mempelajari atau mengkaji sedangkan kata “rasa” adalah tanggapan yang dialami indra atau yang dialami hati. Kata ngaji dari istilah “ngaji rasa” lebih dekat pada kata “mengkaji”. Mengkaji menurut KBBI adalah bentuk kata kerja artinya belajar; mempelajarimemeriksa; menyelidiki; memikirkan; mempertimbangkan; menguji; menelaah. Ngaji rasa adalah mengkaji sesuatu yang menjadi tanggapan indrawi maupun tanggapan hati.

Sebab hidup manusia diberkahi dengan akal dan hati, maka akal yang mengusahakan untuk mengaji dan hati yang mengusahakan untuk merasa. Akal dan hati tidak bisa dipisahkan karena saling berhubungan, juga keduanya adalah modal utama untuk ngaji rasa. Rasa sebagai objek untuk dikaji tidak hanya sebatas perasaan yang kita rasa, namun juga rasa sebagai pengertian respon indrawi yang mencakup rasa sakit, pahit, geli, gatal, ngilu dan sebagainya.

Konsep pada falsafah ngaji rasa terletak pada keterhubungan antar rasa (rasa dan perasaan), artinya satu adalah semua dan semua adalah satu. Dalam sebuah hadis dikatakan: ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.  Jika kita sakit gigi misalnya, maka tubuh serasa seluruhnya sakit meskipun tidak bisa kita tunjuk dan bawaannya tidak enak untuk melakukan apapun. Begitu juga seharusnya dalam lingkup sosial, empati sesama manusia. Jika temanmu merasakan penderitaan atau tersakiti maka sepatutnya kamu juga berempati untuk menolong dan menjaganya supaya ia tidak merasa tersakiti  (rasa atau perasaan).

Pemaknaan tentang ngaji rasa adalah bagaimana kita mempertimbangkan sesuatu sebelum bertindak dengan sebuah pertanyaan atau pernyataan pada diri kita. Pertanyaan dan pernyataan ini benar-benar ditunjukan pada nurani diri sendiri. Di sinilah letak ngaji dalam falsafah “ngaji rasa” terutama tindakan-tindakan yang ditunjukkan pada orang lain. Contohnya, Jika kita bercanda dengan menghina keterbatasan orang lain, maka sebelumnya kita ajukan dulu pada diri kita; “jika saya di posisi dia, apakah saya juga akan merasa senang atau tidak?” Kata kuncinya adalah berbalik, balikan perasaan orang lain dengan persaanmu sendiri lewat pertanyaan dan pernyataan.

“Jika kamu tidak suka dihina, maka jangan hina orang lain. Jika kamu merasa sakit dipukul orang lain, maka jangan pukul orang lain”

“Jika kamu merasa senang dicintai orang lain, maka cintailah orang lain. Jika kamu senang di tolong orang lain, maka tolonglah orang lain”

Jauh lebih dalam pemaknaan ngaji rasa yang berhubungan dengan nurani adalah ngaji rasa pada diri sendiri dengan tindakan jelek yang dilakukan pada diri sendiri (mendzalimi diri). Sebelum mendzalimi diri sendiri maka pertimbangkan dahulu (ngaji) pada diri sendiri apakah dengan tindakan ini saya akan merasa rugi? Sombong atau iri hati misalnya, kan tidak ada ruginya bagi orang lain. Lalu apa ada yang bisa saya pertanyakan lagi sebagai bahan mengaji? Ada.

Yang saya sakiti adalah hati nurani sendiri, jika saya membiarkannya terus melakukan dosa (kejelekan) maka dalam hati nurani saya akan menjadi titik hitam per satu dosa. Jika terus menerus melakukan kejelekan makan akan banyak titik hitam dan terus menghitamkan hati nurani kita. Jika hati kita sudah sangat hitam, maka susah untuk menangkap cahaya (kebaikan). Kebaikan yang ia dapat sendiri maupun diberitahu oleh orang lain meskipun ia “tau” tentang kejelekkannya. Ingat, tau belum tentu ngerti , ngerti juga belum tentu bisa.

Begitu pula sebaliknya, jika kita melakukan yang terbaik untuk diri sendiri, siapa yang merasa untung dan senang? Tidak hanya diri kita tapi juga orang lain, dan itulah konsep holistik dalam falsafah “ngaji rasa” karena jika diri sendiri sudah baik pasti akan berdampak pada orang lain. Disadari atau tidak, kebaikan dan kejelekan pasti akan menular.

Bayangan saya jika setiap pejabat benar-benar mempertimbangkan rasa dan perasaan sebelum bertindak untuk dirinya atau orang lain, maka penyakit negeri ini prihal korupsi akan hilang. Koruptor yang marak sekali saat ini saya yakin tidak mempertanyakan diri atas pertimbangan kerugiannya jika ia di posisi rakyat yang didzalimi penguasa korupnya dengan sepenuh hati. Demikian sekilas catatan saya tentang ngaji rasa sesuai dengan pemaknaan yang saya pahami. Ngaji rasa akan menciptakan keselarasan cinta dan kasih antar manusia dan semua ciptaan Tuhan.

Program “Moé, Nutu, Napi dan Ngejo” di SMIPA

Tema belajar  Semi Palar di pembuka tahun ajaran 2013-2014 adalah “Irama Lumbung Damai”. Di tema ini semua yang berhubungan dengan musik dan suasana pedesaan yang dikemas dengan apik lewat alur cerita menarik di masing-masing kelompoknya. Saya merasa beruntung bisa berkarya di Semi Palar dan dipercaya memfasilitasi anak-anak kelompok Orca. Hampir 9 bulan sudah saya bergabung di sekolah ini, dan sampai sekarang saya masih merasa seperti berkarya sekaligus mengajak anak-anak bermain. Sangat menyenangkan.  Salah satu program yang menarik untuk saya ceritakan adalah programnya Moé, Nutu, Napi dan Ngejo”.  Program tersebut adalah sarana anak-anak untuk mengetahui dan menghayati semua proses menjemur, menumbuk dan menapi padi sampai pada proses menjadi nasi yang siap mereka santap.

“Alone we can do so little; together we can do so much” ― Helen Keller

Di minggu sebelum libur lebaran, Kak Caroline dan Kak Deta dari kelompok Salmon mengajak kelompok Paus Orca (Kak Lyn, Kak Arry dan Kak MJ yang bergabung sesudahnya) untuk mengadakan program babarengan. Intinya kolaborasi ini adalah momentum untuk menghidupkan tema sekaligus mempererat pertemanan kelompok Orca dan Salmon yang semakin kompak ini. Program ini langsung kami dukung karena kaya dengan sasaran dan manfaatnya. Kami yakin anak-anak akan banyak belajar dari program yang menarik ini.

Di awal Minggu ke-5 (Senin 26 Agt), kami mengabarkan program ini kepada anak-anak sekaligus mengkonfirmasi mereka yang mau menyumbang-pinjamkan perkakas sederhana untuk memasak babarengan. Mereka tampak antusias dan mengabarkan informasi ini pada orang tuanya. Alhamdulillah banyak dari orang tua mereka yang mau menyumbang-pinjamkan alat-alat seperti pisau, talenan, katel dan pengkinya untuk hari Jumat nanti. Kami bersyukur program ini banyak didukung juga oleh para ortu Kel. Orca dan Salmon.

Sasaran dari proses ini berharap bagaimana anak-anak menyampaikan informasi sekaligus berdiskusi yang mungkin menjadi hal kecil untuk diobrolkan bersama orang tua. Obrolan ini tentu saja mengembangkan pola interaksi mereka karena harus menyampaikan hal yang sama seperti halnya sasaran program ini. Anak-anak hanya diperbolehkan membawa alat-alat yang juga hanya diperbolehkan oleh orang tuanya. Kemudian, mereka bertanggung jawab dengan alat-alat tersebut dengan tetap menjaga dan tidak membahayangkan sebab diantara alat tersebut ada anak yang membawa pisau sampai dikembalikannya. Semoga obrolan hal kecil mengenai perkakas bisa menjadi obrolan yang berharga bagi keluarga di rumah…

Selasa 27 Agt, saat rutin pagi kedua kelompok ini berkumpul dan membuat lingkaran di ruang Longpus. Di tengah-tengah lingkaran, terdapat 2 ikat paré/padi di atas nyiru dan 4 boboko yang berisi padi juga. Kak Caroline membuka pagi itu dengan menyapa dan salah satu dari teman Kel. Salmon mulai berdo’a dengan rasa syukur untuk hari yang cerah, meminta programnya berjalan lancar dan asik juga memohon agar review hari ini dilancarkan…. Amiin…

Kak Caroline kemudian meniup recorder selama beberapa bait instrument dilanjut Kak Deta melantunkan sebuah lagu yang asing didengar bagi kedua kelompok. Nyanyian itu tampak mengalun indah dengan lirik yang sangat dalam tentang serumpun padi yang menjadi harapan ibu pertiwi. Setelah nyanyian itu selesai, sontak anak-anak bertepuk tangan kemudian Kak Caroline membalasnya dengan ucapan terima kasih tentu saja dengan senyum, bangga dan haru. . .

Moe pare 1

Tanpa jeda lagi, Kak Caroline langsung mengisahkan cerita rakyat tentang Dewi Padi atau Dewi Sri ( Nyai Pohaci Sanghyang Asri). Kisah ini menceritakan tentang asal-usul padi di Bumi. Menurut hemat saya, menceritakan folklore pada anak-anak sangat penting karena selain mereka mengetahui cerita dari nenek moyang di daerah yang mereka tinggali (baca: tanah Sunda), mereka juga menyerap nilai-nilai moral yang saat ini mulai jarang diceritakan orang tua. Selebihnya, paling tidak mereka akan lebih menghayati proses bagaimana padi menjadi beras kemudian nasi saat mereka mengikuti serangkaian program ini. Setelah cerita tentang Dewi Sri selesai, sebagian besar anak memang baru mengetahui cerita rakyat tersebut sambil bertanya-tanya kosa-kata asing yang baru mereka dengar juga.

Rangkaian pertama adalah menjemur padi, untungnya Tuhan memberkati hari itu dengan langit yang cerah. Nuhun gusti!

Mereka dibagi 4 kelompok dan menabur padi untuk dijemur di atas terpal di area dekat bak pasir. Namun, sebagian dari mereka ada yang masih mengobrol diluar konteks program. Memang ini masih menjadi tugas para Kakak agar mereka bisa mengikuti (menghayati) setiap rangkaian proses moé. Tapi kami masih besar harapan karena sebagian besar mereka bisa mengikuti proses moé ini dengan baik.

Selama proses moé, padi itu diberi batas dengan tali rapia yang dililitkan ke kursi. Namun seperti di pedesaan, saat padi itu tidak ditunggui pemiliknya maka burung-burung akan berjejer sambil menunggu kesempatan untuk memakan biji padi yang terhampar diatas terpal itu. Berhubung penunggunya belajar, ya sudahlah… selamat makan burung-burung . . . hihihi…

Manuk

Di siang harinya sebelum mereka pulang, teman-teman Kel. Orca dan Salmon berkumpul dan mengangkat padi yang sudah dijemurnya.

Di rutin pagi hari berikunya (Rabu 28 agt), Kak Deta menyanyikan lagu “Serumpun Padi” karya R. Maladi dan anak-anak ikut bernyanyi dengan lirik yang sudah ditanganny. Kak Deta kemudian membacakan sebuah puisi tentang sawah dan padi sambil diiringi instrumen dari rekordernya Kak Caronline. Pada proses moé ini, anak-anak diajak untuk tenang sambil menghayati setiap gerak tangan yang menabur padi di atas terpal. Di hari kedua moé, anak-anak sudah berhasil dengan tenang mengikuti proses moé dan mengangkat hasil moé-nya.

Hari k 2

Esoknya, di satu jam terakhir sebelum pulang. Kami masih berkumpul di area longpus untuk mempersiapkan proses selanjutnya yaitu nutu atau numbuk dan napi atau nampi. Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan karena menjadi satu kesatuan dari sub proses padi menjadi beras. Proses nutu dan napi ini menjadi rangkaian terakhir dari padi menjadi beras. Kami mengajak teman-teman untuk kembali mengingat proses yang selam ini sudah dilakukan untuk menyelaraskan bagaimana anak-anak menghayati pemaknaan proses ini dengan baik.

Tidak mudah memang dengan dua halu (alat penumbuk) dan satu lisung untuk 4 kelompok. Maka, kami mensiasatinya dengan tetap menyasar pengalaman bagaimana mereka merasakan cara menumbuk dan menampi. Pengalam itu mungkin sangat berharga bagi mereka, sebab mereka bisa merasakan betapa perlu usaha yang keras untuk menghasilkan beras yang akan mereka jadikan nasi. Paling tidak, mereka harus berupaya menumbuk padi dengan posisi yang sama agar tidak keluar dari lisung. Koordinasi tangan dengan konsentrasi mereka usahakan dengan semangat dan saling mencoba.  Mereka bergantian menumbuk dan merapihkan padi yang tercecer ke arah pukulan halu. Sungguh memerlukan usaha yang ekstra agar mereka bisa memisahkan beras dari gabahnya.

Sesungguhnya dibalik proses nutu ini banyak pelajaran yang sedari dulu dilakukan masyarakat Indonesia. Di saung lisung, biasanya masyarakat menjadikan tempat itu untuk bersosialisasi dan bekerja sama. Anak-anak menjadi tak terasa capek karena sambil diimbangi dengan mengobrol. Disamping itu mereka juga merasakan betapa kerja sama saat proses ini sangat diperlukan. Mereka membayangkan betapa capeknya jika mereka melakukan proses nutu ini sendirian.

Saat proses napi anak-anak antusias mencoba dan meminta bergiliran. Lucunya, bagi mereka yang belum tahu caranya, kulit gabah bisa beterbangan ke tubuh mereka dan beras yang seharusnya dipisahkan malah ikut terbang dengan kulit padi tersebut. Semua jika dilakukan bersama, maka akan mudah tercapai. Tiga hari mengikuti rangkaian proses ini memang sangat mengasyikan sekaligus rindu akan kampung halaman dan hidup di masa-masa serba manual.

Terima kasih atas kerja sama para Kakak Kelompok Orca dan Salmon!!!

nutu 2 nutu 3 nutu 4 nutu

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

hari jingga

setiap hari selalu penuh kata-kata

Polaroid Hitam Putih

hidup gue, dalam hitam putih

Journey of the Fates

"Talent and intelligence never yet inoculated anyone against the caprice of the fates. "---J.K.Rowling

selviagnesia

Kuli Tinta, Teater, Pecinta kolektif

sinomcity87

Just another WordPress.com site

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,357 other followers

%d bloggers like this: