Batu Akik Adnan

Batu Akik Adnan

Sungguh aku masih lunglai sempalai. Di atas kasur ini, aku tak mampu bangun dan berjalan. Kata paraji, seharusnya aku tak banyak bergerak. Tentu saja kecuali mandi atau buang hajat. Saat seperti ini, bayang-bayang suamikulah yang kuharapkan membantuku memapah jalan ke kamar mandi dan mengucurkan air dingin ke sekujur tubuhku. Seperti yang sering kita lakukan pasca menikah dulu.

Sehari setelah anak pertamaku lahir, rumahku banyak dikunjungi orang-orang tak dikenal. Bahkan jumlah tetanggaku yang datang tak lebih banyak dari raut wajah-wajah baru.

Orang-orang yang tak kukenal itu memperkenalkan diri atas nama sahabat dari mendiang Adnan, suamiku. Mereka memberiku amplop tanpa perekat. Isinya berlembar- lembar uang ratus ribuan. Satu persatu tamu tak kukenal itu bercerita tentang suamiku yang sering bertemu. Mereka kemudian memasukan amplop dalam baskom warna biru. Raut wajah Ibuku sumringah saat mengintip amplop tak berperekat itu. Untuknya, hal yang sangat gampang mengenali membedakan mana amplop isinya uang ratus ribuan dan uang lima ribuan.

“Tetangga kita amplopnya direkat, Nyai! Tak usah buru-buru dibuka, paling isinya cuma lima ribu.” ujar Ibu menerawang sambil memisahkan antara amplop tetangga dan amplop dari tamu-tamu mendiang suamiku.

“Teman suamimu kaya-kaya ya!”

Baskom yang disediakan Ibuku dalam sehari ini sudah terisi penuh. Baskom biru itu adalah tempat merendam bongkahan batu-batu akik suamiku yang ia beli dari berbagai tempat. Kemudian bongkahan itu ia bawa ke belakang rumah dan ia bentuk sendiri dengan gerinda batu.

Sepuluh bulan yang lalu

Saat kuceritakan tentang kehamilanku, Adnan sungguh bahagia tak terkira. Ia kerap mengusap perutku saat ia pamit pergi dari rumah. Namun kukira ia akan begitu rindu dengan janinnya yang kukandung. Justru, Adnan malah sering pergi setelah sholat shubuh dan pulang larut malam. Sesekali ia pulang hanya sekedar makan siang atau membawa sebuah kotak yang berisi batu-batu akik mengkilap.

Situasi ini dimulai saat ia mendapat sebuah cincin berbatu akik dari seorang kuncen Gunung. Aku sangat yakin bahwa Adnan adalah seorang yang alergi terhadap hal-hal berbau syirik dan mistik. Namun mengapa kini ia malah meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang ojek dan beralih menjadi tukang cincin batu akik. Adnan perlahan mendekapku saat tidur malam. Ia meyakinkanku bahwa pekerjaannya tidak mengajak orang lain untuk sesat. Namun batu-batu akik di kotak itu tak lain hanya benda benilai seni tinggi.

Entah mengapa setiap aku membeli sayur ke pasar menaiki motor tuanya itu, di sepanjang jalan Adnan banyak disapa orang-orang. Motor atau mobil yang berpasan dengan motor Adnan saling bersapa dengan klakson. Serupa salam atau melempar senyum dalam bahasa manusia. Aku malu suamiku terkenal dengan sebutan Si Akik dari kampung Cibatu.

***

Kini Adnan memiliki sebuah jongko baru di bawah pohon di pengkolan kecamatan. Hanya beberapa jam ia di sana, sisanya ia berkeliling ke kampung-kampung untuk menawarkan batu akiknya. Kucermati ada yang salah dengan cara berbisnis Adnan. Dalam dua atau tiga jam, mungkin hanya satu pembeli yang deal dengan batu akik yang dijajakannya. Ia juga kerap memberikan cuma-cuma batu akiknya pada siapa saja.

“Untuk apa Akang berjualan kalau ujung-ujungnya kita rugi?” Aku tak bisa menahan pertanyaan itu setelah ia memberkan cuma-cuma batu akik pada seorang yang baru dikenalnya.

“Tak apalah, cincin batu akik juga sebagai simbol silaturahmi.” Jawab Adnan dengan santai. Ia kemudian berupaya memberikan keteguhan supaya aku bisa lebih menahan diri dan temannya tidak tersinggung.

Adnan kemudian menyitir sebuah kalimat yang sering ia sampaikan. Kata-kata bajik seperti batu akik antik yang kerap ia ulik.

“Silaturahmi itu bisa mendatangkan rezeki dan panjang umur. Rosul bilang begitu.”

“Tapi bisnis ya bisnis Kang. Rosul juga berbisnis dan mampu membiayai keluarganya. Bukan malah menjadi rugi. Jelas itungannya! Kalau mau silaturahmi ya jangan sambil berdagang.”

Adnan hanya cukup tersenyum.

Aku semakin geram karena kini ia sungguh berubah. Apakah perubahan ini karena aku sedang mengandung anaknya? Serupa ngidam yang menyerang suamiku?

Untuk meyakinkan pembelinya Adnan mampu menjelaskannya dengan lihai. Kerap korek api gas bersenter ia jadikan penerawang batu akik Bacan atau Kecubung miliknya. Saat diterawang, bahkan batu akik Kalimaya memancarkan warna mejikuhibiu. Serupa pelangi di atas jari lelaki.

Sekali calon pembeli memulai pembicaraan, penjelasan Adnan bisa beranak pinak sampai berjam-jam. Aku jadi bosan mendampingi Adnan berjualan. Lebih baik istirahat di rumah dari pada memperhatikan suamiku berceloteh tentang batu-batu akiknya.

***

Ibuku mulai jengah melihat Adnan berpindah profesi. Jangankan sekedar memberi tambahan uang untuk mertuanya, penghasilan Adnan untuk menghidupi anak sulung sepertiku juga masih belum cukup. Pendapatannya sehari masih kalah saat ia menjadi tukang ojek kampung kami. Itulah mengapa Ibuku akhir-akhir ini semakin cerewet dan memaksaku menggugat cerai Adnan dan menyuruhku menikah dengan Si Maman, seorang pegawai kecamatan.

Adnan yang dulu cukup pendiam, kini sudah sangat percaya diri. Cukup ceplas-ceplos meskipun lawan bicaranya setingkat kiayi, anggota TNI atau priyayi. Namun aku tak melihat respon mereka yang tersinggung. Bahkan mereka saling berdebat tentang batu akik mana yang paling indah dan bermutu.

Saat itulah aku menjadi semakin pencemburu. Aku mengkhayal berbagai macam andai-andai apa yang dilakukan Adnan saat ia pulang larut malam. Namun ketika ia pulang, Adnan selalu mencium keningku dan memelukku dari belakang saat tidur. Ia selalu mengusap air mataku lalu mencoba menenangkanku dengan petuah-petuah baru.

“Apakah Nyai tidak suka Akang jadi tukang batu akik?” Tanya Adnan sambil merengkuh tubuhku.

“Nyai bukannya tidak suka Kang, tapi kini Akang menjadi kurang perhatian pada Nyai. Mana ada seorang istri yang rela suaminya bepergian ke sana ke mari menawarkan batu akik sampai larut malam begini. Nyai malu Kang, Ibu juga jadi sering cerewet dan jengah membicarakan kejelekan Akang yang seperti tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik dari pada menjual batu akik.” Aku semakin merengek dan melepaskan pelukannya.

“Kan sudah Akang jelaskan, Akang berjualan batu akik ini untuk menghidupi keluarga kita, Nyai. Akang juga tak habis-habisnya mensyukuri keindahan batu ini.”

Adnan kemudian mengeluarkan sebuah batu akik tembus pandang. Saat disenter kulihat keindahan batu Akik itu memang sangat luar biasa. Seperti ada lumut hijau di tengah jernihnya air laut.

“Itu batu apa namanya Kang?” Aku mulai terpincut batu akik yang dibawanya.

“Kenapa? Nyai suka, ya! Ini namanya Bungbulang. Akang dapat dari Garut. Ini sepertinya cocok untuk liontinmu.”

“Ini buat Nyai?”

“Tentu saja, nanti Akang carikan kalungnya, ya! Mau dari emas, perak atau tali rapia?”  Di tengah-tengah pembicaraan, Adnan kadang-kadang juga suka bercanda.

Adnan malam itu menyelipkan selembar uang di bawah bantal, “Ini untuk belanja besok pagi ke pasar.” bisiknya pada telinga kananku.

***

Hampir seumur kandungan anakku, Adnan terus saja menawarkan batu akiknya pada orang-orang.  Pergi pagi. Pulang malam. Ia juga tak mencatatkan piutang kecuali jika ia meminjam batu akik milik orang lain pada buku kecil yang selalu ia bawa. Banyak sekali nama yang ia tuliskan di buku itu. Ia juga menerima titipan batu akik untuk  dijual lagi pada orang-orang yang ditemuinya. Jika beruntung terjual, ia mendapat upah sedikit dari selisih nilai jual batu itu.

Di usia kandunganku yang kesembilan bulan, Ibu sengaja mengajak Adnan untuk berbicara prihal nasib dan masa depan anak dan calon cucunya. Ia langsung mengunci pintu rumah saat Adnan datang untuk makan siang. Seusai makan, Ibu meminta Adnan untuk duduk di sebuah tikar keluarga. Di sana sudah ada ayah dan kedua paman dari Ibuku. Tampak serius memang, tapi mengapa sedemikian serius jika Ibu tidak membicarakannya dulu padaku. Ia mengira aku sangat tersiksa dengan kelakuan Adnan selama ini saat Ibu meminta Adnan untuk menceraikanku.

Meminta cerai saat mengandung adalah hal yang sangat tak etis dan dilarang dalam agama. Namun demikian menggebu-gebunya Ibu dan kedua pamannku untuk segera menceraikanku dari Adnan. Adnan terus berdebat dengan mereka. Aku terkujur menangis sendiri di kamar sambil mengelus kandunganku. Saat kutengok Adnan mulai mereda dan menangis meminta menangguhkan percerainnya namun keluargaku tetap pada pendiriannya.

Mengapa mesti hari ini? Aku mengingat akhir-akhir ini Ibu memang sama sekali tak menangih uang listrik atau beras dari Adnan. Di lehernya, kalung emas baru saja dibeli. Di ruang tengah terpasang TV flat yang tersambung dengan TV kabel merek baru. Kedua pamanku kini datang dengan dua motor matik baru.Mungkinkah itu pemberian Si Maman pekerja kecamatan itu?

Dengan mata berkaca-kaca Adnan pamit dan mencium perutku. Katanya, ada seorang teman lama dari kota memintanya untuk bertemu. Terdengar suara motor tuanya melaju semakin lenyap di telan jarak. Wajah Ibu tampak berseri. Ia mendekatku. Mengusap perutku.

“Adnan sudah setuju untuk bercerai, Nyai.” Ujar Ibu. Aku sama sekali tak percaya bahwa Adnan melakukan hal itu padaku.

“Bukankah Ibu dan kedua pamanku itu yang mendesak supaya kita bercerai, Bu?” Aku melawan dengan kata-kataku.

“Dengarlah Nyai, Seorang Ibu mana yang tega melihat anaknya terus terhujam dengan kesedihan pada suaminya yang tak jelas kemana ia pergi setiap hari!”

“Adnan itu bekerja, Bu! Setiap hari ia berkeliling kampung-kampung menawarkan batu akiknya itu.”

“Oh rupanya kau telah termakan bualan suamimu yang saat ini sudah mulai pintar berkata-kata. Mana sanggup ia menghidupi istri dan anaknya dari batu akik itu! Sudahlah turuti kata-kataku!”

“Hanya maut yang bisa memisahkan kami. Bukan perceraian. Itu yang aku janjikan pada Adnan setelah ia meminangku.”

Aku lebih mengurung diri dalam kamar. Hujan sementara turun amat deras dari langit dan mataku. Jika dulu aku memang senada dengan Ibuku atas kelakuan Adnan yang aneh. Kini kelakuan Ibuku lah yang jelas-jelas sudah melebihi batas dan lebih aneh.

Suara motor tua kudengar kembali setelah malam menutup langit kampung kami. Itukah Adnan? Aku akan menyakinkannya bahwa tak ada perceraian di antara kita. Meskipun kita harus pergi dari rumah ini.

Namun dugaanku salah. Seorang tukang ojek di pengkolan kecamatan mengabarkan bahwa Adnan terusungkur di pojok jalan karena kecelakaan. Izrail menjemput setelah ia menghindari sebuah mobil milik salah satu dinas kecamatan berplat merah.

Perasaanku kemudian mati. Dadaku terhantam. Sekujur tubuhku bisu. Aku bahkan tak ingat bahwa malam itu ramai-ramai orang menggotongku dan seorang paraji membantu melahirkan anak pertamaku. Dari Adnan yang tak sempat mengadzankan.

***

Ibu masih sibuk menghitung amplop. Aku kembali menerima ucapan belasungkawa atas meninggalnya Adnan sekaligus ucapan selamat atas kelahiran putraku. Di kampung kami, baru kali ini ada yang mengantri memberiku selamat selama berhari-hari. Lahan parkir di kampungku tak cukup untuk menampung banyak kendaraan. Hansip-hansip dan pemuda dadakan berganti sebagai juru parkir. Baskom biru terus terisi amplop-amplop baru. Lagi-lagi tamuku adalah kenalan Adnan. Mereka terus menceritakan betapa sangat kehilangannya sosok suamiku.

Selepas Adnan pergi, banyak orang-orang di kampungku mendadak demam batu akik. Mereka tak sungkan-sungkan membuka workshop, bahkan tersiar sampai ke kampung tetangga. Katanya, mereka ingin meniru Adnan yang saat ini keluarganya menjadi kaya raya. Konon, demam batu akik kini merebah ke berbagai wilayah.

Meskipun masa iddahku sudah lebih dari 3 bulan. Masa Iddahku adalah kematianku. Aku jelas tak akan menikah dengan Si Maman selepas kepergian suamiku.

Aku kini yakin dengan kata-kata Adnan. Tentang panjang umur, rezeki dan silaturahmi. Apa kau kira Adnan pendek umur?

Sampai saat ini Adnan terus dibicarakan dan namanya kekal seolah-olah ia hidup di sampingku. Mendekapku.

***

Advertisements
Tagged , , ,

KREATIVITAS DAN SEKOLAH

relaxteacher

Saya masih ingat betul kata-kata Picasso bahwa anak terlahir sebagai seniman. Persoalannya apakah dewasa kelak ia masih sebagai seniman. Ahli kreativitas, Ken Robinson,  dalam sebuah presentasinya di TED mengungkap bahwa sekolah biang keladi kegagalan ini. “Schools kill creativity” ungkapnya.

Mari kita ungkap kenapa Ken Robinson bisa-bisanya berkata demikian. Apakah anda akan mengamininya atau masih keukeuh sekolah tidak demikian?

Sedikit saya ceritakan dulu pernyataan-pernyataan Ken tentang kreativitas yang dibunuh oleh sekolah itu.  Ken mengungkapkan bahwa sistem pendidikan yang berlaku kini telah membunuh kreativitas para siswa. Pendidikan menurut Ken adalah sesuatu yang tertanam dalam diri seseorang. Artinya pendidikan sungguh sangat esensial bagi tumbuh kembangnya seseorang di masa depan. Jika pendidikan itu salah kaprah, maka yang esensi itu sebenarnya mengarahkan kita pada jalan yang sesat dan buruk. Anak-anak mempunyai kapasitas berinovasi dan berkreasi. Persoalannya adalah bakat-bakat mereka tidak berkembang. Pendidikan dan kreativitas mempunyai status yang sama. Keduanya sama-sama sangat penting. Jika dipisahkan, maka…

View original post 756 more words

PENGALAMAN RASA

​Prolog heula!

Rindunya minta ampun. Saya merasa pernah memelihara kata-kata . Lah, pakannya tidak ditebar – ide-ide hanya sempalan–.  Mati kutu juga saat saya sedang berhasrat menulis. Namun, kata-kata seperti saya simpan dalam kandang, tidak diberi pakan, hingga ia lupa bahwa saya pernah memeliharanya dalam tulisan. Lahan yang teramat sia-sia ditinggalkan.  

Ketika saya diajak dalam ‘lingkar blog’ oleh kawan-kawan Semi Palar. Saya ingin kembali memelihara dan mengembala  kata-kata. Tidak di kandang, tidak di pikiran, namun perlu saya giring dalam tulisan. Awalnya Ide-ide menjadi beringas, liar,  sulit dikendalikan. Kata-kata berlarian, susah ditangkap, apalagi diarahkan. Macam pelihara belut, lingas! 

Gambaran menulis saya saat ini semacam itu. Namun, tak kalah hebat, adik-adik di KPB malah lebih lihai memelihara kata-kata. Saya sempat menjadi pengamat, –ngan haté  éra, (nyepét) piraku! –. Untung saja, Kakak-kakak yang lain saling menyemangati. Prung geura nulis deui!

Pengalaman Rasa

“Ketika seorang guru sedang berproses dengan murid-muridnya, nyatanya ia sedang berproses dengan diri sendiri.”

Kalimat itu benar nyatanya, untuk saya. Betapa, saat Kakak merancang karya untuk anak-anak di kelas, sesuai harapan akhirnya anak-anak tuntas membuat karya tersebut. Sampai di situ, saya hampir  tak sempat berpikir proses dibalik mereka melakukannya [bukan sekadar amatan]. 

Saat menggambar, menulis, atau membentuk objek tiga dimensi, selama itu pula saya menjadi semacam motivator layar kaca; “Super!  Ayo, lanjutkan! Harus selesai dalam waktu sekian, ya! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!”  Apalagi dilakukan berkelompok; membayangkan bagaimana mereka berbagi peran dan saling bertoleransi atas ide masing-masing.  

Pada akhirnya, sempat luput bahwa anak-anak di satu sisi lebih hebat dari saya.  Mereka masih terus berproses, menjemput  dan mengasah ide, melihaikan jemarinya, ini dan itu. Dari tahun ke tahun mereka terbiasa mencipta berbagai bentuk karya. Sementara, saya masih mengorbit dipermukaan; mencari ide, merencanakan, mengharap hasil terbaik dari proses mereka. Bagaimana dengan pengalaman dan kemampuan mencipta saya? 

Awal tahun pelajaran ini tepatnya. Kami para Kakak di Semi Palar mulai meluangkan waktu untuk belajar berkarya. Sudah dua kali bergulir; melukis dan membuat cerita bergambar.  Hasilnya, menohok sekali.  Untuk saya, kegiatan ini memang mengasyikan. Namun saya perlu berjuang keras selama melakukan dan juga menuntaskannya. Seperti ada yang berbisik,  “Super!  Ayo, lanjutkan! Harus selesai dalam waktu sekian, ya! Tunjukkan kemampuan terbaikmu!”   

Saat membuat cerita bergambar, misalnya. Secara teknis menulis memang tidak asing, namun saat harus disertai gambar dan dilakukan berkelompok, sulit juga ternyata. Sepanjang kegiatan tersebut, saya menyadari selalu ada yang hal yang perlu kami ikut sertakan selain memberi semangat anak-anak kami. ‘Spirit mengalami’ perlu terpancar di dalam ide, di krayon, di pensil warna, di atas bahan karya, juga di jemari kita. “Oh begini rasanya mewarnai pakai krayon di atas kertas kasar! Hasilnya lebih mantap kalo pakai alat ini dan bahan itu!”   Begitulah kira-kira pengalaman rasa jika sama-sama bisa bicara. 

Ikut menyemai spirit alias pengalaman rasa, istilahnya. Maksudnya, kami  (si pemberi instruksi) perlu sama-sama memiliki ‘pengalaman rasa’  serta kemampuan yang paling tidak menjadi pemancar energi  untuk mengawal kegiatan. Sehingga kami bisa lebih memiliki ‘timbangan-timbangan’ saat mengajak anak-anak berkarya. 

Timbangan-timbangan inilah yang menghimpun saya sebagai Kakak dan anak-anak sebagai partner berkegiatan. Akan ada telusur yang matang dan sama-sama memiliki pengalaman rasa saat menghadapi bagian sulit,  sedang atau pun mudah. Kebayang, seandainya kami membuat kegiatan membuat maket atau diorama hutan. Saat kami minim referensi prihal mengonsep dari ide menuju bentuk,  kemudian mengecat sampai melakukan improvisasi berbagai bahan dan alat. Bagaimana kami bisa menarik sasaran berbagai kemampuan dasar mereka. Inilah yang menjadi referensi mempertimbangkan kemampuan anak dan keselarasan sasaran yang tepat untuk mereka.   

Problemnya, mengapa saya menjadi berhadapan dengan ketidakhadiran pengalaman rasa? Menurut hemat saya, poin yang tak kalah penting ada pada antusiasme dan kesungguhan. Jika saya meletakkan dan berpandangan bahwa karya sebagai satu hal yang membosankan dan tak bergairah, maka jangan berpikir saya akan berusaha mencari ide-ide baru, apalagi melakukannya sebagai sebuah pengalaman rasa. Saya kira, semua penemu hebat pun adalah orang-orang yang selalu diliputi antusiasme dan kesungguhan. Kata sastrawan Ralph Waldo Emerson, induk dari semua usaha adalah antusiasme, tidak akan ada hal besar yang bisa dilakukan tanpa antusiasme.

SAKITU!   

Advertisements
stevarandalia

manusia pembelajar

infinitelyprecious

recollection of moments, toughts, and memories

classyoo

This WordPress.com site is the bee's knees

PineapplePoetry

A great WordPress.com site

Journey_of_Mind

sekadar mikrohistori

%d bloggers like this: